Oleh: ridwanhendra | April 15, 2008

BEMO VERSUS BUS WAY

Jakarta kota metropolitan yang penuh dengan bermacam-macam sarana teransportasi didalamnya, mulai dari yang moderen hingga yang bersifat tradisional. Berkembangnya suatu daerah ditentukan oleh pesatnya kemajuan fasilitas yang ada didalamnya, meski banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhinya . Kebutuhan akan pentingnya kendaraan umum menjadi hal yang tak mungkin diungakiri oleh setiap kalangan, karena hal tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan pada sistematika kehidupan di suatu kota.

Seperti halnya bus way yang sekarang ini marak menjadi perbincangan setiap golongan yang ada di masyarakat karena kelebihan serta kekurangannya. Fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah daerah ini merupakan satu dari sekian banyak kendaraan yang cukup maju pada era sekarang ini. Kehadirannya banyak diminati, mulai dari kalangan eksekutif hingga kalangan menengah kebawah. Selain dari ongkosnya yang dikeluakan tidak merauk kocek yang cukup dalam, kendaraan ini cukup efisien bagi penggunanya dan bisa dikatakan cepat dalam perjalanannya karena mempunyai jalur khusus. Meski memiliki persepsi kurang baik di mata masyarakat, seperti mengurangi luas volume jalan, bus way pun tetap beroprasi karena banyaknya pengguna fasilitas yang cukup murah ini,disamping itu juga sarana ini cukup nyaman dan aman bagi para peminatnya.

Tidak seperti halnya kereta mono rel, bus way, dan transportasi maju lainnya, banyak kendaraan yang mungkin sudah dinilai kuno bagi kita tapi mungkin memiliki andil yang sangat besar dalam sejarah pengoprasiannya, sebagai contoh becak, ojek sepedah, bajaj, bemo dll. Yah bemo, bemo merupakan suatu kendaraan yang ditujukan kepada khalayak khususnya di Jakarta ini yang mungkin sekarang sudah teralienasi oleh orang-orang di sekitarnya. Tingkat kebutuhan bagi pengguna sarana ini sudah sangat minim disebabkan pertumbuhan zaman. Selain itu kendaraan menyandang gelar terfavorit pada tahun tujuh pulauhan ini sudah jarang kita temukan di setiap sudut kota. Pengaruh akan pentingnya tranportasi yang terkenal di masa orde lama ini cukup dirasakan oleh para orang tua kita, selain sebagai jasa angkutan bemo juga telah menjadi ciri khas angkutan masyarakat Jakarta.

Melihat banyaknya peminat bemo pada tempo dulu, menjadikan pemerintah daerah membuat kebijakan pengoprasian fasilitas angkutan umum ini. Dengan hanya mengeluarkan biaya sekitar dua ribu rupiah saja anda bisa pergi ke tempat yang anda tuju, sangat murah dan sangat asyik bagi para peminatnya. Pentingnya mensosialisasikan sarana angkutan ini cukup penting untuk menambah wawasan bagi generasi muda agar mereka bisa menghargai nilai sejarah yang sekarang hamper musnah.

Segala yang pernah naik lambat laun pasti akan turun, hal ini telah dirasakan oleh para sopir-sopir bemo itu sendiri. Kendala yang menghadang mereka terus bertambah seiring berjalannya waktu, seperti pada 1966 dimana angkutan ini telah dihapus dari daftar sarana transportasi di Jakarta disebabkan sejalan pertumbuhan dan majunya tekhnologi yang semakin canggih. Hal ini sangat memukul hati para penarik angkutan ini, seperti Abdullah Nawawi yang biasa disapa Adung. Tekad mensekolahkan anaknya, kesabaran, dan pengorbanan menjadi modal dasar bagi bapak lima anak ini untuk memperoleh hasil dari pekerjaannya. Biaya yang dikeluarkan tidak sepadan dengan pemasukkan yang didapatnya untuk menghidupi lima anaknya, ujarnya pada acara oasis yang ditayangkan Metro TV (12/01). Hal ini dirasakan pula oleh Acep Sutaryana, penghasilan yang didapatnya hanya berkisar tiga puluh ribu saja. Pendatang yang bersal dari Bandung ini merasakan akan sulitnya mencari nafkah untuk keluarga yang berada dikampung halamannya. Pengorbanan yang dilakukannya sungguh tidak seimbang dengan apa yang ia dapatkan, jika pendapatannya tidak mencapai target maka mengharuskannya untuk mencari penumpang hingga larut malam agar hasil yang didapat mencukupi kebutuuhannya dan keluarga.

Selain dari penghapusan bemo dari daftar angkutan Jakarta, APB (Angkutan pengganti bemo) jaga menjadi masalah bagi para pengelola angkutan roda tiga tersebut. Pada tahun 1997 APB mulai diluncurkan untuk menggantikan bemo, dengan alasan merusak pemandangan kota dan menyebabkan polusi Tetapi pada realitanya angkutan yang pernah popular pada tahun tujuh puluhan itu pun tetap eksis hingga saat ini, karena pekerjaan itu sudah mendarah daging bagi mereka.

Pada masa sekarang ini rintangan yang dihadapi para pemilik kendaraan ini pun terus ada. Seperti halnya kenaikan BBM yang terus mencekik leher para pengemudi kendaraan ini. Tuntutan mengeluarkan biaya untuk mengisi bahan bakar harus dirasakan agar mereka bisa terus mencari nafkah bagi keluarganya.

Dari semua kendala yang ada suku cadang yang langka menjadi mimpi buruk bagi para sopir bemo ini. Ketika mesin kendaraan mereka rusak parah dan tidak tersedianya spare part yang baru untuk memperbaikinya maka mengharuskan mereka untuk pensiun sebagai penarik kendaraan roda tiga tersebut.

Dibalik semua rintangan itu nilai solidaritas dari para pemilik angkutan tersebut menyebabkan terus eksisnya bemo hingga saat ini. Kesamaan nasib dan rasa persaudaraan yang kuat semangat bagi mereka untuk terus maju. Kekompakan yang mereka tunjukkan menjadi gambaran betapa berartinya jasa-jasa mereka dimas lalu ketika zaman belum berkembang seperti sekarang ini. Indahnya kebersamaan yang mewarnai hari-hari mereka membuat semangat yang ada terus membara agar mereka selalu memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat ibu kota

Pengorbanan yang mereka lakukan dimasa lalu sekarang telah menjadi kenangan yang cukup pahit dirasa, dimana sarana transportasi yang mereka banggakan bisa sangat banggakan kini terabaikan begitu saja. Kebahagiaan ada pada jiwa yang bersyukur, senyum bahagia mereka menjadi ibadah yang tak ternilai harganya. Semoga balasan yang setimpal atas jasa mereka di masa lalu dapat dirasakan, jasa dimana dengan gigih mereka bekerja mengantar setiap penumpang ke tempat tujuannya. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya membalas perbuatan baik seseorang dan masih adakah keadilan di Jakarta?


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.